Langsung ke konten utama

Negeri Hwa Hwey


Negeri Hwa Hwey, telinga kita pasti sangat asing dengan nama negara itu. Tapi ini memang ada, berdasarkan sudut pandangku negara ini memang ada. Memang bukan negara sesungguhnya yang tercatat secara resmi, tapi ini lebih seperti ironi. Kali ini aku hanya ingin berpendapat mengenai negeri itu, tanpa ada maksud untuk memberikan hal yang berdampak negatif yang menimbulkan konflik. I just want to write some opinion in my mind and share with you. Sebelum memberikan pendapat soal negara itu, tentunya banyak yang tidak tahu dan apa maksud ironi dari ‘Negara Hwa Hwey’ itu sendiri. Sebenarnya negara Hwa Hwey itu adalah negara yang dijadikan sebagai pengandaian pada suatu cerita.

Guru geografi SMA ku, pernah bercerita mengenai negara itu. Jadi begini katanya.. dulu pernah ada seorang turis Amerika hendak belajar agama islam, lantas dia berencana mengunjungi beberapa negara dengan jumlah mayoritas penduduk islam terbanyak di dunia. Dengan harapan agar dia bisa lebih merasakan atmosfer keislaman dan menerapkan setiap ajaran islam, karena di negaranya ajaran islam masih sangat tabu serta dipandang sebelah mata, jelas itu akan mempersulit proses hijrah si turis tersebut. Dengan sangat antusias sepanjang perjalanan udara dia terus menatap keindahan alam negara yang dijadikan destinasi pertamanya itu. Hatinya kian berdebar, ketika pertama kali pesawat menyibak gumpalan awan kecil yang menghalangi kacanya itu memperlihatkan kubah-kubah serta menara-menara mesjid yang sangat indah. Negara itu sungguh sangat indah jika dilihat dari beberapa puluh kilometer dari ketinggian. Mulutnya seakan dengan spontan mengatakan ‘Hwaaa indah sekali’ dan jiwanya kian mantap untuk menjadi seorang muslim yang kaffah. Singkat cerita, saat pesawat sudah take off dan turis itu sudah mengurus segala admiristrasi untuk izin tinggal beberapa hari, dirinya merasa ganjil. Seperti ada yang tidak beres dengan negara yang sedari tadi dia kagumi diatas langit. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan menuju hotel tak terlihat orang-orang sibuk beribadah. Padahal sudah menunjukan waktu Ashar. Suara adzan di mesjid saling bersahutan, walau antara mesjid satu dengan mesjid yang lainnya sangat berdekatan tak ada seorangpun yang bergegas ke mesjid. Memenuhi panggilan untuk solat, menunaikan kewajiban seorang muslim. Suara itu kontras dengan bisingnya perkotaan. Orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri. Turis itu semakin merasa aneh tatkala memasuki area hotel, banyak gadis-gadis belia yang berpakaian minim duduk duduk di lobby hotel. Ada yang sibuk dengan gadgetnya ada juga yang sibuk merapikan riasannya. Dimanakah perempuan-perempuan yang memakai hijab, yang menenangkan hati.? Tanyanya dalam hati. Tempat ibadah selalu sepi, saat malam tiba orang ramai pergi ke diskotik ditambah lagi fasilitas mushola yang disediakan seperti tempat sisa yang seadanya. Tidak ada hijab atau batasan antara makmum laki-laki dan perempuan. Kalau seperti ini, kondisi negara ini lebih parah dari tempat dia berasal. Saat dia melihat yang mengecewakan dari espektasinya bibirnya berucap ‘Wheyy’ itulah sebabnya negara itu dinamakan Negara Hwa Whey.

I think, that ga semua negara mayoritas islam itu dapat menajamin setiap warga negaranya tunduk dan melakukan segala aktivitasnya berdasarkan pedoman umat islam yap Quran dan As-sunah. Sebab pada realitanya apa yang si turis alami itu memang seperti realita saat ini, cerminan negara dengan mayoritas islam terbesar tapi masih jauh dari kata negara yang islami. Lantas siapakah yang salah? I think that no one else is wrong, ga ada yang salah sama pendapat. Itu tergantung sudut pandang dan pemikirannya. Masing-masing orang punya argumen soal itu. Dan cukup untuk kita tau argumen mereka, tanpa harus meperdebatkan hal akan membuat perpecahan. Karena itulah yang membuat persatuan dan toleransi kian turun. Setiap orang pasti merasa benar dengan pendapatnya, karena pada hakikatnya manusia itu memiliki ego, harga diri dan rasa malu jika terlihat lemah atau malah kalah. Sebabnya berdebat bukanlah pilihan yang tepat saat mengetahui perbedaan itu ada. Bukankah Allah menciptakan manusia itu berbeda, berbangsa-bangsa dan beragam. Biarlah ketaatan dan ketakwaan yang membuat manusia itu tinggi dan memliki martabat lebih baik dari makhluk Allah lainnya.


Ketika kita tau kebenaran, kita ikuti dan jangan mencontoh segala keburukan dan kerusakan yang orang-orang dengan kedudukan yang lebih tinggi itu lakukan dan menyalahi orang-orang atas perbuatan kerusakannya. Hal itu hanya akan membuat diri buta akan kesalahan diri sendiri. Sibuk mencari kesalahan orang lain hanya akan membuat krisis jati diri seorang muslim. Kalau memang ada masalah ya cari tau masalahnya, fokus dan pecahkan bukannya berkutat pada asal masalah itu. Karena jika seperti itu kita akan selalu melakukan pembenaran dan menjadikan kita sebagai komentator yang ntah berharga atau tidak kicauannya. Padahal kita itu bagian dari negara, yang selayaknya memberikan kontribusi terhadap negara. Aku memang bukan siapa-siapa dan belum meberikan kontribusi lebih untuk negaraku sendiri, tapi aku peduli. Bukankah rasa cinta terhadap negara itu sebagian dari kontribusi, dengan peduli kita bisa menjadi tahu seperti apa negara kita itu. Dan secara fakta, Negaraku ini negara yang beragam. Kita ga bisa maksa orang untuk seragam dengan kita, semua ini indah karena keaneka ragaman. Mungkin dengan menjaga setiap hubungan baik dan bertoleransi itu bisa mengikat kuat keaneka ragaman. Dan sebaik-baiknya muslim itu adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain, tatkala ucapan kita sudah tak didengar untuk menyeru kebaikan. Biarkan setiap perilaku kita yang menjadi bagian dari dakhwah. Jadikan agama itu bukan hanya sekedar ilmu pengetahuan, tapi sebagai perwujudan dalam tingkah laku di keseharian. Wallahualam... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fiskal Year 23

Saat manusia ditempatkan di zona nyamannya. Saat itu lah dirinya memilih untuk tak pernah tumbuh dan menemukan potensi hebat yang ada pada dirinya.  Walau begitu, keluar dari zona nyaman tak pernah menjanjikan kenyamanan. Ada banyak tekanan, kesedihan dan kenestapaan yang ntah siapa yang memahaminya jika bukan diri sendiri.  Hari berganti hari, bertemu orang baru. Benar ternyata, bertemunya kita sama seseorang itu selalu ada tujuan. Selalu ada maksud, ntah mereka akan menjadi zona nyaman atau zona mengerikan yang perlahan bisa ditakluki.  Kalau kata bapak, manusia saat dipaksa keluar dari zona nyaman itu ada 2. Satu siap menerima dengan antusias satu lagi takut akan perubahan.  Dua respon itulah yang akan menentukan siapa kamu dimasa depan. Bukankah perubahan itu selalu ada walau tak pernah menunggu diri siap atau tidak? Aku jadi ingat kisah orang-orang sukses dan bahkan nabi muhammad saw sekalipun, adalah orang yang selalu keluar dari zona nyamannya. Mereka perlahan...

Psikologi kekayaan Ala Rosulullah

Ketika uang menjadikan nilai segala galanya dalam kesejahteraan seseorang, uang menjadi sumber kebahagian seseorang, dan segala bentuk harta apapun itu. Yang membuat bangga dan menjadikan diri seolah mampu dan menyaingi orang untuk mendapatkan posisi kesetaraan dengan orang yang berharta. Sungguh. Semua itu sia-sia. Kekayaan tidak sama dengan harta dan jumlah aset yang dimiliki. Kekayaan adalah hal yang tak terlihat. Seperti jumlah tabungan di rekening mu. Seberapa banyak uang yang dimiliki yang tak dibelanjakan. Itu adalah kekayaan sesungguhnya. Orang selalu lupa, membelanjakan uang tidak mungkin akan mendapatkan uang kembali. Malah akan mendapatkan barang. Hingga lambat laun kekayaan akan berkurang. Seseorang yang memiliki barang branded harga selangit, mobil mewah, rumah megah dan aset melimpah tidak menjamin kekayaan tetap terjaga. Karena seseorang yang paham mengenai kekayaan hanya akan melihat orang itu sudah membelanjakan hartanya dan kekayaannya berkurang. Bisa jadi bukan lag...

Diterima di Teknik Mesin POLBAN

Ingatan tentang penerimaan untuk melanjutkan kuliah, membuatku ingin selalu kuingat. Setidaknya aku bisa menjadikan hal itu sebagai rasa syukurku, saat diluar sana banyak orang yang tidak dapat kuliah. Ketika siswa SMA telah tidak memakai lagi seragam putih abu, terhitung hanya 4% dari total penduduk Indonesia yang mampu merasakan bagaimana rasanya kuliah. Dan aku disini, yang sibuk dengan jam kuliahku yang sedang padat-padatnya, ditambah lagi dengan jam praktek, tugas serta organisasi yang kuamanahi saat ini. Ingin rasanya kutuliskan sebuah tulisan sebagai selfreminder untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Siang itu aku sibuk berkutat bersama laptop dan ponsel, kali ini bukan saja untuk menghilangkan penat atau malah jadi seorang stalker  untuk gebetan. Jelas bukan. Aku sibuk mencari informasi mengenai SNMPTN, SBMPTN dan PMDK. Karena saat itu aku masih duduk dibangku SMA kelas 12. Masa-masa kritis selama SMA, masa puncak, masa penentuan dan masa kelabilan. Bagaimana tidak saat...