Langsung ke konten utama

Racun yang keluar dari mulut

Ada beberapa hal yang membuatku ingin menulis soal pendapat bahayanya ‘Gibah’. Gibah itu memang berbahaya, gibah itu racun. Ucapannya mampu mempengaruhi siapa saja yang dia hinggapi. Bahkan karena masalah kecil dan sepele pun karena gibah itu bisa membuat semuanya jadi rumit dan dilematis.

 Beberapa hari yang lalu temanku itu merasa tidak enak dengan sikap seseorang kepadanya. Katanya dia merasa di zolimi dan tidak mau terima akan perkara yang menurutku itu biasa saja sih. cuman mungkin karena dia sudah terlalu membawa nafsunya untuk berbicara sehingga gengsi rasanya untuk mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.

Sebenarnya, menurutku yang paling berbahaya itu adalah sebuah prasangka buruk. Berprasangka buruk itu dapat membuat hati benar-benar tidak tenang. Selalu berpikir buruk terhadap suatu keadaan atau parahnya terhadap seseorang. Berprasangka itu memang tindakan yang terlalu mudah untuk menyimpulkan. Padahal kita ga bisa fokus sama sudut pandang kita aja, orang bisa seperti itu bukan berarti punya hal atau maksud negatif, tapi bisa jadi karena kebodohan kita yang menyalahkan semuanya. Padahal apa yang terpikirkan buruk belum tentu itu memang benar-benar terjadi. Dan karena masalah ini, orang bisa saling bermusuhan dan memiliki anggapan terkuat untuk membela diri, untuk membenarkan segala maksud opini.

Hakikatnya seorang manusia itu adalah makhluk yang bersosial, mereka pasti memiliki cara untuk selalu berkomunikasi. Walau seseorang introvert sekalipun, mereka juga memerlukan berkomunikasi. aku yakin kebanyakan obrolan yang selalu kita bawa sebagai topik pembicaraan itu adalah perihal pengalaman dan masalah hidup. Baik buruk suatu kejadian, rasanya bibir ini gatal untuk tidak mengeluarkan keluh kesah atau curhatan hati hanya sebagai pengantar cerita bersama teman saja. Seperti kita yang ga suka sama seseorang yang karena hal yang tidak masuk akal, contohnya karena orang itu berfisik jelek, bermuka masam dan segala bentuk prasangka buruk yang terbangun terhadap orang yang kita benci. Dan lucunya entah mengapa, setiap ucapan atau curhatan hati itu seolah membawa pengaruh juga terhadap mereka yang mendengarnya. Ntah orang itu ikut-ikutan benci atau apalah intinya sama, menghasut. Disana aku tau, dahsyatnya kekuatan ber-cerita, terlebih jika kita memilih tempat yang salah untuk bercerita. Kabar akan cepat merebak, melesat seperti busur panah yang menusuk udara. Kadang karena hal itu juga, muncullah segala macam pembulian. Seperti pengucilan dilingkungan mereka,dan bahkan sampai kekerasan verbal pun akan terjadi. Seperti menyinggung atau menyindir dengan kasar orang yang mereka benci, sehingga mental orang itu tersakiti. Tak mungkin jika mereka tidak merasa sakit hati, mereka bisa saja diam tapi sekuat-kuatnya hati tidaklah berdaya jika terus dihujani dengan ucapan buruk. Hati mereka bisa mati atau bahkan menjadi sosok yang tidak percaya diri dan selalu menyalahkin diri sendiri. Menurutku ini sudah termasuk kriminal, tindakan yang tidak dibenarkan khususnya di Agamaku, Islam.

Sebagai seorang muslim jelas dong, kita ga boleh kaya gitu. Apalagi terhadap muslim lainnya, kita itu bersaudara. Satu rasa dan satu jiwa.  Bahkan jelas dalam Al – Quran disebutkan larangan untuk tidak berprasangka dan menggibah .

Wahai orang – orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jiji. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh Allah Maha penerima taubat dan Maha penyanyang”  (49:12)

Dalam ayat tersebut dijelaskan perumpamaan seseorang yang berprasangka buruk, menggibah dan menggunjing itu seperti memakan bangkai manusia. Lantas apakah kita masih sudi untuk memakan bangkai manusia? Jangan terlalu sibuk dengan perasaan, dengan urusan yang membuka celah untuk selalu menggibah, sibuklah dengan setiap ucapan kita. Bisa jadi, mulut menjadi sumber masalah dan ladang dosa kita, bisa jadi mulut ini sudah terlalu banyak membuat seseorang sakit hati. Lidah memang tidak bertulang, sebabnya dia selalu dengan mudah dan bebas untuk bergerak, tidak pernah lelah.

Rosulullah juga mengatakan bahwa, lebih baik diam dari pada berbicara hal yang tidak penting. Mulai dari sekarang, mari kita bersama untuk menjaga lisan dan pikiran. Jangan biarkan nafsu yang menguasainya. Merasa tidak suka terhadap seseorang itu memang fitrah manusia, tapi pikiran kita jangan kalap. Bercerita juga hendaknya jangan mengumbar nama hingga orang terbawa untuk memiliki sudut pandang buruk kepada orang itu.


Sudah saatnya menjadi dewasa, tidak perlu menunggu umur tua, tapi dewasalah karena prinsip dan kebijaksanaan. Meredam nafsu itu lebih baik dari pada melampiaskannya hanya demi kepuasan sesaat. Toh apa yang kita pikirkan itu belum tentu kebenarannya, bisa jadi itu karena keangkuhan kita yang membuat derajat ego semakin tinggi hingga merendahkan orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fiskal Year 23

Saat manusia ditempatkan di zona nyamannya. Saat itu lah dirinya memilih untuk tak pernah tumbuh dan menemukan potensi hebat yang ada pada dirinya.  Walau begitu, keluar dari zona nyaman tak pernah menjanjikan kenyamanan. Ada banyak tekanan, kesedihan dan kenestapaan yang ntah siapa yang memahaminya jika bukan diri sendiri.  Hari berganti hari, bertemu orang baru. Benar ternyata, bertemunya kita sama seseorang itu selalu ada tujuan. Selalu ada maksud, ntah mereka akan menjadi zona nyaman atau zona mengerikan yang perlahan bisa ditakluki.  Kalau kata bapak, manusia saat dipaksa keluar dari zona nyaman itu ada 2. Satu siap menerima dengan antusias satu lagi takut akan perubahan.  Dua respon itulah yang akan menentukan siapa kamu dimasa depan. Bukankah perubahan itu selalu ada walau tak pernah menunggu diri siap atau tidak? Aku jadi ingat kisah orang-orang sukses dan bahkan nabi muhammad saw sekalipun, adalah orang yang selalu keluar dari zona nyamannya. Mereka perlahan...

Psikologi kekayaan Ala Rosulullah

Ketika uang menjadikan nilai segala galanya dalam kesejahteraan seseorang, uang menjadi sumber kebahagian seseorang, dan segala bentuk harta apapun itu. Yang membuat bangga dan menjadikan diri seolah mampu dan menyaingi orang untuk mendapatkan posisi kesetaraan dengan orang yang berharta. Sungguh. Semua itu sia-sia. Kekayaan tidak sama dengan harta dan jumlah aset yang dimiliki. Kekayaan adalah hal yang tak terlihat. Seperti jumlah tabungan di rekening mu. Seberapa banyak uang yang dimiliki yang tak dibelanjakan. Itu adalah kekayaan sesungguhnya. Orang selalu lupa, membelanjakan uang tidak mungkin akan mendapatkan uang kembali. Malah akan mendapatkan barang. Hingga lambat laun kekayaan akan berkurang. Seseorang yang memiliki barang branded harga selangit, mobil mewah, rumah megah dan aset melimpah tidak menjamin kekayaan tetap terjaga. Karena seseorang yang paham mengenai kekayaan hanya akan melihat orang itu sudah membelanjakan hartanya dan kekayaannya berkurang. Bisa jadi bukan lag...

Diterima di Teknik Mesin POLBAN

Ingatan tentang penerimaan untuk melanjutkan kuliah, membuatku ingin selalu kuingat. Setidaknya aku bisa menjadikan hal itu sebagai rasa syukurku, saat diluar sana banyak orang yang tidak dapat kuliah. Ketika siswa SMA telah tidak memakai lagi seragam putih abu, terhitung hanya 4% dari total penduduk Indonesia yang mampu merasakan bagaimana rasanya kuliah. Dan aku disini, yang sibuk dengan jam kuliahku yang sedang padat-padatnya, ditambah lagi dengan jam praktek, tugas serta organisasi yang kuamanahi saat ini. Ingin rasanya kutuliskan sebuah tulisan sebagai selfreminder untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Siang itu aku sibuk berkutat bersama laptop dan ponsel, kali ini bukan saja untuk menghilangkan penat atau malah jadi seorang stalker  untuk gebetan. Jelas bukan. Aku sibuk mencari informasi mengenai SNMPTN, SBMPTN dan PMDK. Karena saat itu aku masih duduk dibangku SMA kelas 12. Masa-masa kritis selama SMA, masa puncak, masa penentuan dan masa kelabilan. Bagaimana tidak saat...