Ada beberapa hal yang
membuatku ingin menulis soal pendapat bahayanya ‘Gibah’. Gibah itu memang
berbahaya, gibah itu racun. Ucapannya mampu mempengaruhi siapa saja yang dia
hinggapi. Bahkan karena masalah kecil dan sepele pun karena gibah itu bisa
membuat semuanya jadi rumit dan dilematis.
Beberapa hari yang lalu temanku itu merasa
tidak enak dengan sikap seseorang kepadanya. Katanya dia merasa di zolimi dan
tidak mau terima akan perkara yang menurutku itu biasa saja sih. cuman mungkin
karena dia sudah terlalu membawa nafsunya untuk berbicara sehingga gengsi
rasanya untuk mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.
Sebenarnya, menurutku
yang paling berbahaya itu adalah sebuah prasangka buruk. Berprasangka buruk itu
dapat membuat hati benar-benar tidak tenang. Selalu berpikir buruk terhadap
suatu keadaan atau parahnya terhadap seseorang. Berprasangka itu memang
tindakan yang terlalu mudah untuk menyimpulkan. Padahal kita ga bisa fokus sama
sudut pandang kita aja, orang bisa seperti itu bukan berarti punya hal atau
maksud negatif, tapi bisa jadi karena kebodohan kita yang menyalahkan semuanya.
Padahal apa yang terpikirkan buruk belum tentu itu memang benar-benar terjadi.
Dan karena masalah ini, orang bisa saling bermusuhan dan memiliki anggapan
terkuat untuk membela diri, untuk membenarkan segala maksud opini.
Hakikatnya seorang
manusia itu adalah makhluk yang bersosial, mereka pasti memiliki cara untuk
selalu berkomunikasi. Walau seseorang introvert sekalipun, mereka juga
memerlukan berkomunikasi. aku yakin kebanyakan obrolan yang selalu kita bawa
sebagai topik pembicaraan itu adalah perihal pengalaman dan masalah hidup. Baik
buruk suatu kejadian, rasanya bibir ini gatal untuk tidak mengeluarkan keluh
kesah atau curhatan hati hanya sebagai pengantar cerita bersama teman saja.
Seperti kita yang ga suka sama seseorang yang karena hal yang tidak masuk akal,
contohnya karena orang itu berfisik jelek, bermuka masam dan segala bentuk
prasangka buruk yang terbangun terhadap orang yang kita benci. Dan lucunya
entah mengapa, setiap ucapan atau curhatan hati itu seolah membawa pengaruh
juga terhadap mereka yang mendengarnya. Ntah orang itu ikut-ikutan benci atau
apalah intinya sama, menghasut. Disana aku tau, dahsyatnya kekuatan ber-cerita,
terlebih jika kita memilih tempat yang salah untuk bercerita. Kabar akan cepat
merebak, melesat seperti busur panah yang menusuk udara. Kadang karena hal itu
juga, muncullah segala macam pembulian. Seperti pengucilan dilingkungan mereka,dan
bahkan sampai kekerasan verbal pun akan terjadi. Seperti menyinggung atau
menyindir dengan kasar orang yang mereka benci, sehingga mental orang itu
tersakiti. Tak mungkin jika mereka tidak merasa sakit hati, mereka bisa saja
diam tapi sekuat-kuatnya hati tidaklah berdaya jika terus dihujani dengan
ucapan buruk. Hati mereka bisa mati atau bahkan menjadi sosok yang tidak
percaya diri dan selalu menyalahkin diri sendiri. Menurutku ini sudah termasuk
kriminal, tindakan yang tidak dibenarkan khususnya di Agamaku, Islam.
Sebagai seorang muslim
jelas dong, kita ga boleh kaya gitu. Apalagi terhadap muslim lainnya, kita itu
bersaudara. Satu rasa dan satu jiwa.
Bahkan jelas dalam Al – Quran disebutkan larangan untuk tidak
berprasangka dan menggibah .
“Wahai orang – orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari
kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian
yang lain. Apakah diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Tentu kamu merasa jiji. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh Allah Maha
penerima taubat dan Maha penyanyang” (49:12)
Dalam ayat tersebut
dijelaskan perumpamaan seseorang yang berprasangka buruk, menggibah dan
menggunjing itu seperti memakan bangkai manusia. Lantas apakah kita masih sudi
untuk memakan bangkai manusia? Jangan terlalu sibuk dengan perasaan, dengan
urusan yang membuka celah untuk selalu menggibah, sibuklah dengan setiap ucapan
kita. Bisa jadi, mulut menjadi sumber masalah dan ladang dosa kita, bisa jadi
mulut ini sudah terlalu banyak membuat seseorang sakit hati. Lidah memang tidak
bertulang, sebabnya dia selalu dengan mudah dan bebas untuk bergerak, tidak pernah
lelah.
Rosulullah juga
mengatakan bahwa, lebih baik diam dari pada berbicara hal yang tidak penting.
Mulai dari sekarang, mari kita bersama untuk menjaga lisan dan pikiran. Jangan
biarkan nafsu yang menguasainya. Merasa tidak suka terhadap seseorang itu
memang fitrah manusia, tapi pikiran kita jangan kalap. Bercerita juga hendaknya
jangan mengumbar nama hingga orang terbawa untuk memiliki sudut pandang buruk
kepada orang itu.
Sudah saatnya menjadi
dewasa, tidak perlu menunggu umur tua, tapi dewasalah karena prinsip dan
kebijaksanaan. Meredam nafsu itu lebih baik dari pada melampiaskannya hanya
demi kepuasan sesaat. Toh apa yang kita pikirkan itu belum tentu kebenarannya,
bisa jadi itu karena keangkuhan kita yang membuat derajat ego semakin tinggi
hingga merendahkan orang lain.
Komentar
Posting Komentar