Langsung ke konten utama

Pilihannya hanya dua : Dikenang atau Mengenang

  Malam sudah larut, namun suasana kota masih saja ramai. Seperti tak pernah beristirahat,  mungkin ada kalanya kaki yang terus berjalan ini lebih baik berhenti. bukan karena lelah atau karena sebuah keluhan, tapi karena perjalanan ini yang tampak sia-sia. Saat jerih payah seseorang itu tak lagi dihiraukan, jangan seenaknya berpikir jika mereka itu lemah dalam niat. Mereka hanya sudah berada di batas sabar, beranggapan jika semuanya itu sudah tidak berarti. Saatnya untuk berpikir lebih dewasa, lebih mengenal skala prioritas. Tidak ada yang salah memang, jika memang ada coba tanyakan pada diri sendiri yang terlalu mementingkan ego dan mengabaikan perasaan orang lain.

  Dan saat ini, cukup lama aku tertegun di depan gadgetku. Bolak balik memasuki laman akun jejaring sosialku. Kini aku sedang menulis, hanya bersama ponselku. Tidak ada laptop yang biasa aku pakai untuk menulis, cukup sepi memang. Ini bukan keinginanku, semua terjadi karena kebodohanku. Sehingga semua file di laptop hilang, dan temanku sedang berusaha untuk mengembalikannya. Berbicara soal kehilangan, rasanya setiap orang jelas akan merasa berat dan tidak mudah untuk menerimanya. Orang-orang yang rela akan kehilangan itu adalah orang dengan pemahaman ilmu ikhlas yang tinggi. Dan aku, saat ini masih belajar akan hal itu. Mengiklas. Sederhana memang, namun rasanya sulit sekali untuk di implementasikan. Menurutku, yang berat itu bukanlah perkara ada dan tiada kenangan itu, tapi lebih kepada kilasan balik yang seolah membawa kita menuju kenangan atau mengingat beberapa hal yang berkesan menurut hidup kita. Itulah yang menjadikan seseorang susah move on, terlebih jika kita masih sering menekuni profesi kita sebagai seorang stalker. Bisa saja orang beranggapan untuk melupakan masa lalu dan lebih berpikir mengorientasikan masa depan, tapi masa lalu tidak mudah untuk dilupakan man, kadang kilasan balik yang menuntut kita untuk mengingat masa lalu. Membuat perasaan untuk merasakan hal yang pernah tercipta dimasa itu. Masa lalu tidak sepenuhnya dapat dilupakan, sebabnya kenangan itu sangatlah berarti.

  Sebuah kenangan juga akan mengantarkan kita kepada kearifan dalam berpikir, menjadikan sosok diri yang lebih dewasa karena belajar dari masa lalu dan kenangan yang pernah terjadi. Biarlah itu menjadi sebuah rasa atau sensasi tersendiri saat kita dihinggapi sebuah kenangan. Menurutku sebuah kenangan yang kuat itu ada saat kita terlalu lama menikmati zona nyaman, banyak membiarkan diri untuk membelanjakan waktu pada hal yang cukup menjadikan semuanya itu sebagai fitrah seorang manusia. Seperti berdua bercengkarama bersama sahabat, pergi ke pesta dan nafsu-nafsu manusia lainnya. Dan ketika kenangan itu sudah terproses menjadi sebuah ingatan, mungkin akan ada banyak yang terasa lain dalam hidup. Karena ketidak biasaan itu. Jika sudah seperti itu, manusia akan mudah merasa kesepian, dan menuntut untuk kembali ke masalalu atau memaksa diri untuk melupakannya. Padahal, perjalanan waktu itu tak mudah kita bayangkan.Lantas dengan mudah  menyalahkan diri sendiri, padahal kita hanya kesepian. Merasa diri bukanlah apa-apa, atau bukanlah seseorang yang penting sehingga dilupakan dan membiarkan kita sendiri yang memikul kenangan itu. Tapi ingat, itu hanyalah sebuag perasaan. Tidak ada yang salah dari diri, tapi yang salah itu anggapan kesepian itu. Bukankah seorang muslim itu dianjurkan untuk terus menjalin silaturahmi, berbuat tolong menolong?? Lantas kenapa masih merasa sepi? Merasa jika kenangan itu hal yang memenjara diri untuk keluar dari zonanya? Mungkin karena saat ini orang-orang sibuk dengan jari dan layar ponselnya, sehingga mengabaikan orang yang ada di dekatnya. Sibuk bergulat dengan waktu untuk menatap media sosial dan mambandingkan standar hidup dengan orang lain. Padahal dunia tak sesempit itu, dan tak sesempit kenangan yang kita miliki. Hidup bukan untuk memuaskan keinginan diri, tapi sebagaimana kita mampu berguna untuk orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fiskal Year 23

Saat manusia ditempatkan di zona nyamannya. Saat itu lah dirinya memilih untuk tak pernah tumbuh dan menemukan potensi hebat yang ada pada dirinya.  Walau begitu, keluar dari zona nyaman tak pernah menjanjikan kenyamanan. Ada banyak tekanan, kesedihan dan kenestapaan yang ntah siapa yang memahaminya jika bukan diri sendiri.  Hari berganti hari, bertemu orang baru. Benar ternyata, bertemunya kita sama seseorang itu selalu ada tujuan. Selalu ada maksud, ntah mereka akan menjadi zona nyaman atau zona mengerikan yang perlahan bisa ditakluki.  Kalau kata bapak, manusia saat dipaksa keluar dari zona nyaman itu ada 2. Satu siap menerima dengan antusias satu lagi takut akan perubahan.  Dua respon itulah yang akan menentukan siapa kamu dimasa depan. Bukankah perubahan itu selalu ada walau tak pernah menunggu diri siap atau tidak? Aku jadi ingat kisah orang-orang sukses dan bahkan nabi muhammad saw sekalipun, adalah orang yang selalu keluar dari zona nyamannya. Mereka perlahan...

Psikologi kekayaan Ala Rosulullah

Ketika uang menjadikan nilai segala galanya dalam kesejahteraan seseorang, uang menjadi sumber kebahagian seseorang, dan segala bentuk harta apapun itu. Yang membuat bangga dan menjadikan diri seolah mampu dan menyaingi orang untuk mendapatkan posisi kesetaraan dengan orang yang berharta. Sungguh. Semua itu sia-sia. Kekayaan tidak sama dengan harta dan jumlah aset yang dimiliki. Kekayaan adalah hal yang tak terlihat. Seperti jumlah tabungan di rekening mu. Seberapa banyak uang yang dimiliki yang tak dibelanjakan. Itu adalah kekayaan sesungguhnya. Orang selalu lupa, membelanjakan uang tidak mungkin akan mendapatkan uang kembali. Malah akan mendapatkan barang. Hingga lambat laun kekayaan akan berkurang. Seseorang yang memiliki barang branded harga selangit, mobil mewah, rumah megah dan aset melimpah tidak menjamin kekayaan tetap terjaga. Karena seseorang yang paham mengenai kekayaan hanya akan melihat orang itu sudah membelanjakan hartanya dan kekayaannya berkurang. Bisa jadi bukan lag...

Diterima di Teknik Mesin POLBAN

Ingatan tentang penerimaan untuk melanjutkan kuliah, membuatku ingin selalu kuingat. Setidaknya aku bisa menjadikan hal itu sebagai rasa syukurku, saat diluar sana banyak orang yang tidak dapat kuliah. Ketika siswa SMA telah tidak memakai lagi seragam putih abu, terhitung hanya 4% dari total penduduk Indonesia yang mampu merasakan bagaimana rasanya kuliah. Dan aku disini, yang sibuk dengan jam kuliahku yang sedang padat-padatnya, ditambah lagi dengan jam praktek, tugas serta organisasi yang kuamanahi saat ini. Ingin rasanya kutuliskan sebuah tulisan sebagai selfreminder untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Siang itu aku sibuk berkutat bersama laptop dan ponsel, kali ini bukan saja untuk menghilangkan penat atau malah jadi seorang stalker  untuk gebetan. Jelas bukan. Aku sibuk mencari informasi mengenai SNMPTN, SBMPTN dan PMDK. Karena saat itu aku masih duduk dibangku SMA kelas 12. Masa-masa kritis selama SMA, masa puncak, masa penentuan dan masa kelabilan. Bagaimana tidak saat...