Malam sudah larut, namun suasana kota masih saja ramai. Seperti tak pernah beristirahat, mungkin ada kalanya kaki yang terus berjalan ini lebih baik berhenti. bukan karena lelah atau karena sebuah keluhan, tapi karena perjalanan ini yang tampak sia-sia. Saat jerih payah seseorang itu tak lagi dihiraukan, jangan seenaknya berpikir jika mereka itu lemah dalam niat. Mereka hanya sudah berada di batas sabar, beranggapan jika semuanya itu sudah tidak berarti. Saatnya untuk berpikir lebih dewasa, lebih mengenal skala prioritas. Tidak ada yang salah memang, jika memang ada coba tanyakan pada diri sendiri yang terlalu mementingkan ego dan mengabaikan perasaan orang lain.
Dan saat ini, cukup lama aku tertegun di depan gadgetku. Bolak balik memasuki laman akun jejaring sosialku. Kini aku sedang menulis, hanya bersama ponselku. Tidak ada laptop yang biasa aku pakai untuk menulis, cukup sepi memang. Ini bukan keinginanku, semua terjadi karena kebodohanku. Sehingga semua file di laptop hilang, dan temanku sedang berusaha untuk mengembalikannya. Berbicara soal kehilangan, rasanya setiap orang jelas akan merasa berat dan tidak mudah untuk menerimanya. Orang-orang yang rela akan kehilangan itu adalah orang dengan pemahaman ilmu ikhlas yang tinggi. Dan aku, saat ini masih belajar akan hal itu. Mengiklas. Sederhana memang, namun rasanya sulit sekali untuk di implementasikan. Menurutku, yang berat itu bukanlah perkara ada dan tiada kenangan itu, tapi lebih kepada kilasan balik yang seolah membawa kita menuju kenangan atau mengingat beberapa hal yang berkesan menurut hidup kita. Itulah yang menjadikan seseorang susah move on, terlebih jika kita masih sering menekuni profesi kita sebagai seorang stalker. Bisa saja orang beranggapan untuk melupakan masa lalu dan lebih berpikir mengorientasikan masa depan, tapi masa lalu tidak mudah untuk dilupakan man, kadang kilasan balik yang menuntut kita untuk mengingat masa lalu. Membuat perasaan untuk merasakan hal yang pernah tercipta dimasa itu. Masa lalu tidak sepenuhnya dapat dilupakan, sebabnya kenangan itu sangatlah berarti.
Sebuah kenangan juga akan mengantarkan kita kepada kearifan dalam berpikir, menjadikan sosok diri yang lebih dewasa karena belajar dari masa lalu dan kenangan yang pernah terjadi. Biarlah itu menjadi sebuah rasa atau sensasi tersendiri saat kita dihinggapi sebuah kenangan. Menurutku sebuah kenangan yang kuat itu ada saat kita terlalu lama menikmati zona nyaman, banyak membiarkan diri untuk membelanjakan waktu pada hal yang cukup menjadikan semuanya itu sebagai fitrah seorang manusia. Seperti berdua bercengkarama bersama sahabat, pergi ke pesta dan nafsu-nafsu manusia lainnya. Dan ketika kenangan itu sudah terproses menjadi sebuah ingatan, mungkin akan ada banyak yang terasa lain dalam hidup. Karena ketidak biasaan itu. Jika sudah seperti itu, manusia akan mudah merasa kesepian, dan menuntut untuk kembali ke masalalu atau memaksa diri untuk melupakannya. Padahal, perjalanan waktu itu tak mudah kita bayangkan.Lantas dengan mudah menyalahkan diri sendiri, padahal kita hanya kesepian. Merasa diri bukanlah apa-apa, atau bukanlah seseorang yang penting sehingga dilupakan dan membiarkan kita sendiri yang memikul kenangan itu. Tapi ingat, itu hanyalah sebuag perasaan. Tidak ada yang salah dari diri, tapi yang salah itu anggapan kesepian itu. Bukankah seorang muslim itu dianjurkan untuk terus menjalin silaturahmi, berbuat tolong menolong?? Lantas kenapa masih merasa sepi? Merasa jika kenangan itu hal yang memenjara diri untuk keluar dari zonanya? Mungkin karena saat ini orang-orang sibuk dengan jari dan layar ponselnya, sehingga mengabaikan orang yang ada di dekatnya. Sibuk bergulat dengan waktu untuk menatap media sosial dan mambandingkan standar hidup dengan orang lain. Padahal dunia tak sesempit itu, dan tak sesempit kenangan yang kita miliki. Hidup bukan untuk memuaskan keinginan diri, tapi sebagaimana kita mampu berguna untuk orang lain.
Dan saat ini, cukup lama aku tertegun di depan gadgetku. Bolak balik memasuki laman akun jejaring sosialku. Kini aku sedang menulis, hanya bersama ponselku. Tidak ada laptop yang biasa aku pakai untuk menulis, cukup sepi memang. Ini bukan keinginanku, semua terjadi karena kebodohanku. Sehingga semua file di laptop hilang, dan temanku sedang berusaha untuk mengembalikannya. Berbicara soal kehilangan, rasanya setiap orang jelas akan merasa berat dan tidak mudah untuk menerimanya. Orang-orang yang rela akan kehilangan itu adalah orang dengan pemahaman ilmu ikhlas yang tinggi. Dan aku, saat ini masih belajar akan hal itu. Mengiklas. Sederhana memang, namun rasanya sulit sekali untuk di implementasikan. Menurutku, yang berat itu bukanlah perkara ada dan tiada kenangan itu, tapi lebih kepada kilasan balik yang seolah membawa kita menuju kenangan atau mengingat beberapa hal yang berkesan menurut hidup kita. Itulah yang menjadikan seseorang susah move on, terlebih jika kita masih sering menekuni profesi kita sebagai seorang stalker. Bisa saja orang beranggapan untuk melupakan masa lalu dan lebih berpikir mengorientasikan masa depan, tapi masa lalu tidak mudah untuk dilupakan man, kadang kilasan balik yang menuntut kita untuk mengingat masa lalu. Membuat perasaan untuk merasakan hal yang pernah tercipta dimasa itu. Masa lalu tidak sepenuhnya dapat dilupakan, sebabnya kenangan itu sangatlah berarti.
Sebuah kenangan juga akan mengantarkan kita kepada kearifan dalam berpikir, menjadikan sosok diri yang lebih dewasa karena belajar dari masa lalu dan kenangan yang pernah terjadi. Biarlah itu menjadi sebuah rasa atau sensasi tersendiri saat kita dihinggapi sebuah kenangan. Menurutku sebuah kenangan yang kuat itu ada saat kita terlalu lama menikmati zona nyaman, banyak membiarkan diri untuk membelanjakan waktu pada hal yang cukup menjadikan semuanya itu sebagai fitrah seorang manusia. Seperti berdua bercengkarama bersama sahabat, pergi ke pesta dan nafsu-nafsu manusia lainnya. Dan ketika kenangan itu sudah terproses menjadi sebuah ingatan, mungkin akan ada banyak yang terasa lain dalam hidup. Karena ketidak biasaan itu. Jika sudah seperti itu, manusia akan mudah merasa kesepian, dan menuntut untuk kembali ke masalalu atau memaksa diri untuk melupakannya. Padahal, perjalanan waktu itu tak mudah kita bayangkan.Lantas dengan mudah menyalahkan diri sendiri, padahal kita hanya kesepian. Merasa diri bukanlah apa-apa, atau bukanlah seseorang yang penting sehingga dilupakan dan membiarkan kita sendiri yang memikul kenangan itu. Tapi ingat, itu hanyalah sebuag perasaan. Tidak ada yang salah dari diri, tapi yang salah itu anggapan kesepian itu. Bukankah seorang muslim itu dianjurkan untuk terus menjalin silaturahmi, berbuat tolong menolong?? Lantas kenapa masih merasa sepi? Merasa jika kenangan itu hal yang memenjara diri untuk keluar dari zonanya? Mungkin karena saat ini orang-orang sibuk dengan jari dan layar ponselnya, sehingga mengabaikan orang yang ada di dekatnya. Sibuk bergulat dengan waktu untuk menatap media sosial dan mambandingkan standar hidup dengan orang lain. Padahal dunia tak sesempit itu, dan tak sesempit kenangan yang kita miliki. Hidup bukan untuk memuaskan keinginan diri, tapi sebagaimana kita mampu berguna untuk orang lain.
Komentar
Posting Komentar