Langsung ke konten utama

Saat Semuanya Tidak Berarti


Ada beberapa hal yang telah menggangu pikiranku untuk saat ini. Aku tidak mengerti dengan sikap orang – orang yang kian hari kurang menghargai kontribusi seseorang untuk kepentingan mereka. Kadang aku berpikir, apakah selama ini aku salah niat sehingga mengharapkan timbal balik dari seseorang. Aku merasa sudah menyiksa dan menyia-nyiakan waktu untuk hal yang bahkan tidak pernah menganggap pentingnya kehadiranku, kontribusiku.

Lantas kecewa dengan mudah mengahampiri, ketidak mudahan untuk percaya dengan orang lainpun sudah sering aku rasakan. Rasanya ingin menyerah dan tidak mau lagi berhubungan dengan hal yang sama, mungkin karena ego manusia itu hakikatnya diciptakan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Aku yakin, setiap orang itu pasti ingin selalu dihargai, diakui keberadaan serta kinerja mereka. Ntah itu baik atau buruk, mereka pasti selalu menuntut penilaian dari orang lain. Penilaian itu seperti cermin yang akan merefleksikan kualitas diri, khususnya mengenai hubungan sesama manusia. Seperti penilaian terburuk berupa kritikan itu akan senantiasa membangun dan meng-upgrade kualitas diri ke arah yang lebih baik lagi dengan catatan jika orang itu mampu menerimanya dengan baik. Tapi berbeda dengan orang yang tidak biasa dengan kritikan, yang selalu haus akan pujian. Mereka bisa saja mudah tersinggung dan sakit hati saat menerima kritikan. Tidak semua orang sama, lain orang lain cara. Kita ga bisa seenaknya gitu aja nyikapin sikap seseorang. Orang bisa aja keliatan cuek, sabodo teuing tapi dia itu cukup sensitif, ada juga orang yang bener-bener sabodo teuing. Dan bisa jadi, kelakuan kita itulah yang membuat kita tersiksa. Seperti mendapat balasan akan sikap yang pernah kita lakukan seperti itu kepada mereka. Terkadang sudut pandang dan ego yang membuat semua itu benar untuk diri, serta melupakan hak untuk orang lain.

Saat berbicara mengenai respect rasanya ilmu ikhlas itu benar-benar di uji. Bagaimana tidak, saat kita sudah berkontribusi lebih meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mereka, dan mereka malah bertindak seperti tidak menghiraukan kehadiran kita. Rasanya cukup mengecewakan, apa lagi jika kita tau kebenaran itu dari orang lain. Saat orang yang bersangkutan tidak pernah meluruskan masalah respect itu. Aku yakin, mungkin diantara hubungan itu pastilah ingin dihargai satu sama lain ntah itu mengenai kinerja atau sikap. Tapi rasanya diabaikan tanpa suatu pembenaran kata itu cukup memberatkan hati.

Bersabar? Rasanya memang berat karena kita tidak tau akhir dari sabar itu seperti apa. Saat orang – orang berusaha bertahan dengan kondisi mereka sepert itu, rasanya sabar tak berbatas dan kerap menjadi obat untuk terus menantikan akhir dari setiap kejadian. Tapi, menurutku sabar itu ada batasannya. Tidak mungkin kita bersabar jika tidak tahu akhirnya, dan karena sabar itu ada batasan dan ujung dari sabar itu adalah pertolongan Allah.

Memang benar, tak banyak yang dapat dilakukan oleh seorang mukmin untuk masalah seperti itu, selain bersabar dan mengikhlaskan. Karena membalas sikap mereka dengan hal yang sama itu tidak akan ada penyelesaian. Biarlah, bukankah setiap kehidupan di dunia ini adalah sandiwara? Untuk apa terlalu mendramatisir suatu peran yang malah membuat rendah kualitas diri. Balas dendam itu memang perlu. Balas dendamlah dengan terus menaikan kualitas diri, karena orang yang selalu mencibir atau tidak pernah menghiraukan jerih payah usahamu itu akan malu sendiri.

Percayalah, saat kita menyakiti perasaan seseorang. Bisa jadi bukan hanya orang itu yang kita sakiti, apakah kita lupa jika dibalik seseorang itu ada kedua orang tua yang menyayanginya, sahabat dan kerabat yang menjaganya dan Tuhan yang selalu mendengar doa dan mendekapnya. Kita memang sudah menyakiti satu orang, namun ada banyak yang menerima dampak dari sikap zolim kita itu. Bahayanya, saat orang yang terzolimi itu mengadu kepada Tuhannya. Jelas tidak banyak yang dapat kita lakukan. Bukankah jelas, jika doa orang yang terzolimi langsung dikabulkan oleh-Nya? Dan kadang kita lupa jika kesulitan hidup kita itu bisa jadi karena sikap zolim kita kepada mereka, orang-orang yang ada dilingkungan kita. Sebabnya, seorang mukmin itu ga seenaknya aja bergaul. Jelas ada adab dalam berteman, terutama untuk saling menghargai. Karena bisa jadi, sikap kita yang seolah tidak mau tahu terhadap seseorang itu bisa mengantarkan kita untuk menerima takdir terburuk.Bukankah setiap amal itu ada balasannya? Tak perlu menunggu mati, untuk menerima balasan setiap amal. Selama diri masih berpijak di bumi Allah, setiap perbuatan itu akan ada balasannya. Lunturkan ego untuk melihat kepentingan orang lain, menghargai setiap usaha mereka. Jika memang ada masalah dengan perkara itu, utarakan. Karena dibalik sikap sabodo teuing ada orang yang terzolimi. Wallahualam...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fiskal Year 23

Saat manusia ditempatkan di zona nyamannya. Saat itu lah dirinya memilih untuk tak pernah tumbuh dan menemukan potensi hebat yang ada pada dirinya.  Walau begitu, keluar dari zona nyaman tak pernah menjanjikan kenyamanan. Ada banyak tekanan, kesedihan dan kenestapaan yang ntah siapa yang memahaminya jika bukan diri sendiri.  Hari berganti hari, bertemu orang baru. Benar ternyata, bertemunya kita sama seseorang itu selalu ada tujuan. Selalu ada maksud, ntah mereka akan menjadi zona nyaman atau zona mengerikan yang perlahan bisa ditakluki.  Kalau kata bapak, manusia saat dipaksa keluar dari zona nyaman itu ada 2. Satu siap menerima dengan antusias satu lagi takut akan perubahan.  Dua respon itulah yang akan menentukan siapa kamu dimasa depan. Bukankah perubahan itu selalu ada walau tak pernah menunggu diri siap atau tidak? Aku jadi ingat kisah orang-orang sukses dan bahkan nabi muhammad saw sekalipun, adalah orang yang selalu keluar dari zona nyamannya. Mereka perlahan...

Psikologi kekayaan Ala Rosulullah

Ketika uang menjadikan nilai segala galanya dalam kesejahteraan seseorang, uang menjadi sumber kebahagian seseorang, dan segala bentuk harta apapun itu. Yang membuat bangga dan menjadikan diri seolah mampu dan menyaingi orang untuk mendapatkan posisi kesetaraan dengan orang yang berharta. Sungguh. Semua itu sia-sia. Kekayaan tidak sama dengan harta dan jumlah aset yang dimiliki. Kekayaan adalah hal yang tak terlihat. Seperti jumlah tabungan di rekening mu. Seberapa banyak uang yang dimiliki yang tak dibelanjakan. Itu adalah kekayaan sesungguhnya. Orang selalu lupa, membelanjakan uang tidak mungkin akan mendapatkan uang kembali. Malah akan mendapatkan barang. Hingga lambat laun kekayaan akan berkurang. Seseorang yang memiliki barang branded harga selangit, mobil mewah, rumah megah dan aset melimpah tidak menjamin kekayaan tetap terjaga. Karena seseorang yang paham mengenai kekayaan hanya akan melihat orang itu sudah membelanjakan hartanya dan kekayaannya berkurang. Bisa jadi bukan lag...

Diterima di Teknik Mesin POLBAN

Ingatan tentang penerimaan untuk melanjutkan kuliah, membuatku ingin selalu kuingat. Setidaknya aku bisa menjadikan hal itu sebagai rasa syukurku, saat diluar sana banyak orang yang tidak dapat kuliah. Ketika siswa SMA telah tidak memakai lagi seragam putih abu, terhitung hanya 4% dari total penduduk Indonesia yang mampu merasakan bagaimana rasanya kuliah. Dan aku disini, yang sibuk dengan jam kuliahku yang sedang padat-padatnya, ditambah lagi dengan jam praktek, tugas serta organisasi yang kuamanahi saat ini. Ingin rasanya kutuliskan sebuah tulisan sebagai selfreminder untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Siang itu aku sibuk berkutat bersama laptop dan ponsel, kali ini bukan saja untuk menghilangkan penat atau malah jadi seorang stalker  untuk gebetan. Jelas bukan. Aku sibuk mencari informasi mengenai SNMPTN, SBMPTN dan PMDK. Karena saat itu aku masih duduk dibangku SMA kelas 12. Masa-masa kritis selama SMA, masa puncak, masa penentuan dan masa kelabilan. Bagaimana tidak saat...