Ada beberapa hal yang
telah menggangu pikiranku untuk saat ini. Aku tidak mengerti dengan sikap
orang – orang yang kian hari kurang menghargai kontribusi seseorang untuk
kepentingan mereka. Kadang aku berpikir, apakah selama ini aku salah niat
sehingga mengharapkan timbal balik dari seseorang. Aku merasa sudah menyiksa
dan menyia-nyiakan waktu untuk hal yang bahkan tidak pernah menganggap
pentingnya kehadiranku, kontribusiku.
Lantas kecewa dengan
mudah mengahampiri, ketidak mudahan untuk percaya dengan orang lainpun sudah
sering aku rasakan. Rasanya ingin menyerah dan tidak mau lagi berhubungan
dengan hal yang sama, mungkin karena ego manusia itu hakikatnya diciptakan
untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Aku yakin, setiap orang itu pasti
ingin selalu dihargai, diakui keberadaan serta kinerja mereka. Ntah itu baik
atau buruk, mereka pasti selalu menuntut penilaian dari orang lain. Penilaian itu
seperti cermin yang akan merefleksikan kualitas diri, khususnya mengenai
hubungan sesama manusia. Seperti penilaian terburuk berupa kritikan itu akan
senantiasa membangun dan meng-upgrade kualitas diri ke arah yang lebih baik
lagi dengan catatan jika orang itu mampu menerimanya dengan baik. Tapi berbeda
dengan orang yang tidak biasa dengan kritikan, yang selalu haus akan pujian. Mereka
bisa saja mudah tersinggung dan sakit hati saat menerima kritikan. Tidak semua
orang sama, lain orang lain cara. Kita ga bisa seenaknya gitu aja nyikapin
sikap seseorang. Orang bisa aja keliatan cuek, sabodo teuing tapi dia itu cukup
sensitif, ada juga orang yang bener-bener sabodo teuing. Dan bisa jadi,
kelakuan kita itulah yang membuat kita tersiksa. Seperti mendapat balasan akan
sikap yang pernah kita lakukan seperti itu kepada mereka. Terkadang sudut
pandang dan ego yang membuat semua itu benar untuk diri, serta melupakan hak
untuk orang lain.
Saat berbicara mengenai
respect rasanya ilmu ikhlas itu benar-benar di uji. Bagaimana tidak, saat kita
sudah berkontribusi lebih meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mereka,
dan mereka malah bertindak seperti tidak menghiraukan kehadiran kita. Rasanya cukup
mengecewakan, apa lagi jika kita tau kebenaran itu dari orang lain. Saat orang
yang bersangkutan tidak pernah meluruskan masalah respect itu. Aku yakin,
mungkin diantara hubungan itu pastilah ingin dihargai satu sama lain ntah itu
mengenai kinerja atau sikap. Tapi rasanya diabaikan tanpa suatu pembenaran kata
itu cukup memberatkan hati.
Bersabar? Rasanya memang
berat karena kita tidak tau akhir dari sabar itu seperti apa. Saat orang –
orang berusaha bertahan dengan kondisi mereka sepert itu, rasanya sabar tak
berbatas dan kerap menjadi obat untuk terus menantikan akhir dari setiap
kejadian. Tapi, menurutku sabar itu ada batasannya. Tidak mungkin kita bersabar
jika tidak tahu akhirnya, dan karena sabar itu ada batasan dan ujung dari sabar
itu adalah pertolongan Allah.
Memang benar, tak
banyak yang dapat dilakukan oleh seorang mukmin untuk masalah seperti itu,
selain bersabar dan mengikhlaskan. Karena membalas sikap mereka dengan hal yang
sama itu tidak akan ada penyelesaian. Biarlah, bukankah setiap kehidupan di
dunia ini adalah sandiwara? Untuk apa terlalu mendramatisir suatu peran yang
malah membuat rendah kualitas diri. Balas dendam itu memang perlu. Balas dendamlah
dengan terus menaikan kualitas diri, karena orang yang selalu mencibir atau
tidak pernah menghiraukan jerih payah usahamu itu akan malu sendiri.
Percayalah, saat kita
menyakiti perasaan seseorang. Bisa jadi bukan hanya orang itu yang kita sakiti,
apakah kita lupa jika dibalik seseorang itu ada kedua orang tua yang
menyayanginya, sahabat dan kerabat yang menjaganya dan Tuhan yang selalu
mendengar doa dan mendekapnya. Kita memang sudah menyakiti satu orang, namun
ada banyak yang menerima dampak dari sikap zolim kita itu. Bahayanya, saat
orang yang terzolimi itu mengadu kepada Tuhannya. Jelas tidak banyak yang dapat
kita lakukan. Bukankah jelas, jika doa orang yang terzolimi langsung dikabulkan
oleh-Nya? Dan kadang kita lupa jika kesulitan hidup kita itu bisa jadi karena
sikap zolim kita kepada mereka, orang-orang yang ada dilingkungan kita. Sebabnya,
seorang mukmin itu ga seenaknya aja bergaul. Jelas ada adab dalam berteman,
terutama untuk saling menghargai. Karena bisa jadi, sikap kita yang seolah
tidak mau tahu terhadap seseorang itu bisa mengantarkan kita untuk menerima
takdir terburuk.Bukankah setiap amal itu ada balasannya? Tak perlu menunggu
mati, untuk menerima balasan setiap amal. Selama diri masih berpijak di bumi
Allah, setiap perbuatan itu akan ada balasannya. Lunturkan ego untuk melihat kepentingan
orang lain, menghargai setiap usaha mereka. Jika memang ada masalah dengan
perkara itu, utarakan. Karena dibalik sikap sabodo teuing ada orang yang
terzolimi. Wallahualam...
Komentar
Posting Komentar