Langsung ke konten utama

Aku adalah apa yang ada di sekitarku


Konon katanya jika sudah memiliki sahabat selama 7 tahun lebih itu bisa dikatakan sebagai sahabat sejati. Yang mana akan memiliki pemikiran, sudut pandang dan prinsip yang sama. Senang rasanya jika memiliki teman yang benar-benar selalu ada dan mendukung saat kita sedang terjatuh dan saat tidak memiliki pegangan untuk berjalan. Tapi itu bukanlah perkara yang mudah. Semuanya dapat diraih dengan proses, karena teman bukanlah suatu barang yang bisa dibeli. Melainkan, mereka adalah mahluk yang memiliki perasaan. Yang akan selalu setia jika ego yang dimiliki mampu diredam dan saling menghargai. Keterbukaan juga merupakan suatu kunci untuk memiliki teman sejati.


Perkara pertemanan ini memang sangatlah penting untuk dibicarakan. Karena menurutku, seorang teman akan membentuk karakter, kepribadian dan pemikiran. Banyak orang yang salah pergaulan karena mereka kurang bijak dalam memilih pertemanan. Sebenarnya tidak ada larangan untuk berteman dengan siapa saja, hanya saja untuk menerima pemahaman dan prinsip hidup seorang teman itu ga seenaknya. Teman adalah lingkungan terbesar untuk menjadikan seseorang seperti sekarang. Seorang muslim mungkin pernah mendengar istilah, jika kamu bergaul dengan pedagang asin maka kamu akan tertular bau asin dan jika kamu bergaul dengan pedagang minyak wangi maka kamu akan tercium bau wanginya. Ya ini menunjukan jika kita adalah apa yang ada dilingkungan kita. Dan seperti itulah analogi dalam suatu pertemanan.


Lantas, haruskah menunggu selama 7 tahun untuk dapat percaya dan menerima seseorang dalam sebuah pertemanan? Menurutku sih sebenarnya ga ada batasan waktu untuk berteman dengan seseorang. Hanya saja untuk percaya dengan orang itu ga semudah kita membicarakan orang lain. Memang benar jika manusia itu makhluk social, selalu membutuhkan interaksi. Ga mungkin jika manusia itu dapat hidup sendiri, menggenggam masalahnya sendiri. Setertutupnya seseorang sama dunia, mereka pasti akan menunjukan ekspresi jika mereka juga ingin di dengar. Dan memang benar, jika memilih teman curhat itu ga seenaknya. Mencari teman curhat itu seperti mencari dukungan atas pembelaan masalah yang dihadapi. Tidak mungkin jika kita curhat kepada orang yang tidak mendukung pendapat kita. Karena curhat adalah kegiatan untuk mencari perhatian agar mendapat solusi atas permasalahannya. Sebabnya untuk memiliki teman itu tak semudah mendapatkan kenalan. Perlu banyak waktu untuk percaya dengan seseorang. Kadang orang yang kita anggap sebagai teman, mereka selalu beringkah seolah mereka selalu ada dan mengerti kondisi temannya, nyatanya mereka hanya ada saat mereka butuh saja. Sehingga muncullah isilah Fake Friends. Orang kadang memilih menutup diri dan menghindari percakapan dengan sekitarnya, karena bisa jadi itu adalah suatu wujud perlindungan dirinya dari seseorang yang bernama fake friends. Orang bisa saja menutupi jati diri yang sebenarnya, itu tergantung pilihan seperti apa yang ingin ia tunjukan pada dunia. Seperti lautan yang sangat luas, mereka bisa memberikan riak atau ketenangan itu tergantung apa yang mereka munculkan ke atas permukaan. Padahal jauh di dalam dasar lautan itu terdapat banyak penampakan yang tak terduga.


Berhati – hati dalam berteman itu memang perlu, karena tak seharusnya kita percaya penuh dengan sebuah pertemanan. Apalagi kita menitipkan banyak harapan kepada mereka, karena pertemanan seperti itu sudah tidak zamannya. Biarlah sebuah pertemanan itu terbangun atas niat untuk mencinta karena-Nya, dimana terbangun atas dasar taat dan takut akan siksanya. Selalu mengingatkan dan berusaha untuk mencegah temannya agar tidak terjerumus karena kelakuan salahnya. Percayalah, teman yang baik itu ada ketika iman mulai lemah, saat ketaatan mulai meluntur dan saat kita jauh dari-Nya. Tapi sikap bodoh dan angkuh kita selalu menolak pembenaran yang disampaikan melalui teman yang menyayangi kita. Sebabnya, hidayah kian terasa sulit untuk didapatkan. Ketenangan hati sulit juga untuk dirasakan. Bersyukurlah jika saat ini ada teman seperti itu, karena mereka lebih berharga dari harta. Muliakanlah mereka, karena kelak mereka akan menjadi saksi hijrah diri kearah yang lebih baik lagi. Niatkan semuanya karena Allah, karena itu akan menjadi nilai ibadah disisi-Nya. Bukankah Allah tidak menciptakan manusia selain untuk beribadah kepada-Nya.? Wallahualam….

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fiskal Year 23

Saat manusia ditempatkan di zona nyamannya. Saat itu lah dirinya memilih untuk tak pernah tumbuh dan menemukan potensi hebat yang ada pada dirinya.  Walau begitu, keluar dari zona nyaman tak pernah menjanjikan kenyamanan. Ada banyak tekanan, kesedihan dan kenestapaan yang ntah siapa yang memahaminya jika bukan diri sendiri.  Hari berganti hari, bertemu orang baru. Benar ternyata, bertemunya kita sama seseorang itu selalu ada tujuan. Selalu ada maksud, ntah mereka akan menjadi zona nyaman atau zona mengerikan yang perlahan bisa ditakluki.  Kalau kata bapak, manusia saat dipaksa keluar dari zona nyaman itu ada 2. Satu siap menerima dengan antusias satu lagi takut akan perubahan.  Dua respon itulah yang akan menentukan siapa kamu dimasa depan. Bukankah perubahan itu selalu ada walau tak pernah menunggu diri siap atau tidak? Aku jadi ingat kisah orang-orang sukses dan bahkan nabi muhammad saw sekalipun, adalah orang yang selalu keluar dari zona nyamannya. Mereka perlahan...

Psikologi kekayaan Ala Rosulullah

Ketika uang menjadikan nilai segala galanya dalam kesejahteraan seseorang, uang menjadi sumber kebahagian seseorang, dan segala bentuk harta apapun itu. Yang membuat bangga dan menjadikan diri seolah mampu dan menyaingi orang untuk mendapatkan posisi kesetaraan dengan orang yang berharta. Sungguh. Semua itu sia-sia. Kekayaan tidak sama dengan harta dan jumlah aset yang dimiliki. Kekayaan adalah hal yang tak terlihat. Seperti jumlah tabungan di rekening mu. Seberapa banyak uang yang dimiliki yang tak dibelanjakan. Itu adalah kekayaan sesungguhnya. Orang selalu lupa, membelanjakan uang tidak mungkin akan mendapatkan uang kembali. Malah akan mendapatkan barang. Hingga lambat laun kekayaan akan berkurang. Seseorang yang memiliki barang branded harga selangit, mobil mewah, rumah megah dan aset melimpah tidak menjamin kekayaan tetap terjaga. Karena seseorang yang paham mengenai kekayaan hanya akan melihat orang itu sudah membelanjakan hartanya dan kekayaannya berkurang. Bisa jadi bukan lag...

Diterima di Teknik Mesin POLBAN

Ingatan tentang penerimaan untuk melanjutkan kuliah, membuatku ingin selalu kuingat. Setidaknya aku bisa menjadikan hal itu sebagai rasa syukurku, saat diluar sana banyak orang yang tidak dapat kuliah. Ketika siswa SMA telah tidak memakai lagi seragam putih abu, terhitung hanya 4% dari total penduduk Indonesia yang mampu merasakan bagaimana rasanya kuliah. Dan aku disini, yang sibuk dengan jam kuliahku yang sedang padat-padatnya, ditambah lagi dengan jam praktek, tugas serta organisasi yang kuamanahi saat ini. Ingin rasanya kutuliskan sebuah tulisan sebagai selfreminder untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Siang itu aku sibuk berkutat bersama laptop dan ponsel, kali ini bukan saja untuk menghilangkan penat atau malah jadi seorang stalker  untuk gebetan. Jelas bukan. Aku sibuk mencari informasi mengenai SNMPTN, SBMPTN dan PMDK. Karena saat itu aku masih duduk dibangku SMA kelas 12. Masa-masa kritis selama SMA, masa puncak, masa penentuan dan masa kelabilan. Bagaimana tidak saat...