Bertemu dengan seseorang itu bukanlah semata sebuah pertemuan biasa, rasanya aku harus menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur. Lebih paham dengan arti sebuah hikmah dibalik semua kejadian. Mungkin aku baru mengerti dan paham mengenai hadis yang pernah menyatakan bahwa “…pada akhir zaman itu umat muslim akan seperti buih di lautan” sungguh miris memang. Umat muslim kian banyak namun kita sama-sama asing. Seolah ada sekat yang tak terlihat untuk dapat menyapa, saling mengenal dan menjadi saudara. Tak tahu apa yang membuat ku tidak nyaman untuk mulai menyapa atau mengucapkan salam. Nyatanya saat aku mulai merasakan hal seperti itu, aku seketika merasa malas berinteraksi dan memilih mengutak ngatik ponsel yang jelas jelas tidak ada apa-apanya. Hanya sekedar ingin terlihat sibuk dan memiliki alasan untuk tidak mengganggu orang lain.
Namun berbeda dengan dua orang seusiaku yang duduk disebalahku itu, mereka terlihat ramah. Bahkan sesekali menyapaku dan mengajaku berbicara yang pada saat itu aku sedang sibuk sendiri membuka akun media sosialku. Aku sama sekali tidak terganggu dengan sikap mereka yang begitu terbuka dan membuatku nyaman dalam waktu yang singkat. Kami saling bercerita, seketika aku merasa tidak sepi dalam riuh orang – orang yang sibuk dikeramaian itu. Mereka cukup sederhana, menikmati setiap obrolan tanpa membuka gadget mereka. Saat ku tahu, alasan mereka tidak bermain ponsel karena salah satu dari mereka telah kehilangan ponsel. Hebat, mukanya tetap tenang dan tidak ada sama sekali rasa cemas. “Qodarullah, mau bagaimana lagi. Saya ikhlas” begitu katanya, sungguh aku merasakan kekuatan kata ikhlas di dalamnya. Ntahlah bagaimana aku jika di posisinya. Orang itu dari Banten, ntah bagaimana cara dia bisa tenang untuk kehilangan sebuah benda yang bisa menyambungkan komunikasi itu.
Tapi itu hanyalah sebuah benda, bukan satu hal yang harus di risaukan. Pada zaman dahulu pula Rosulullah dan Khadijah pun tidak memerlukan ponsel untuk menjalin komunikasi satu sama lain. Tapi zaman dan kebiasaan seolah membuat kedudukan benda itu sangat penting untuk beberapa orang. its make technology is everything, orang berlomba lomba untuk membuat system atau teknologi yang kian maju. Padahal semakin majunya teknologi itu tak bisa menjamin kemajuan setiap orangnya. Aku ngerasa semakin majunya teknologi malah nyiptain orang-orang yang apatis dan ber-ego tinggi. Seoalah ga peduli sama lingkungan mereka, selalu melihat standar hidup orang lain seolah hidupnya itu selalu kurang dan jauh dari rasa syukur.
Hidup di era digital emang perlu disikapi lebih bijak. Kian hari pengguna internet dibuat bingung dengan opini atau fakta. Kian hari pengguna medsos dibuat iri sama isi history orang-orang yang memiliki standar hidup mereka yang mewah. Membuat standar kebahagian mereka juga berubah, selalu merasa kesepian ketika orang – orang mengupload moment kebersamaan mereka dengan sahabat atau yang mereka katakan pacar. Padahal hakikat bahagia itu bisa kita ciptakan sendiri, begitupun dengan kesedihan. Sebagaimana kita mampu mengambil setiap hikmah pada setiap jalan cerita yang sudah ditakdirkan.
Dan beruntungnya, teman baruku itu ternyata mahasiswa tahfiz quran di salah satu pesantren di Subang. Kehidupan pesantren dibiasakan untuk tidak mengharuskan siswanya berkomunikasi dengan ponsel. Sehingga tidak ada ponsel selama mereka ada di pondok, sebabnya kehidupan mereka lebih nyaman dan damai. Hidup tidak hanya melihat standar hidup orang lain, tidak hanya memegang gadget mululu untuk dikatakan manusia up to date. Jika Allah menghendaki hambanya untuk tahu, maka tidak ada yang bisa ditutupi. Masya Allah sungguh pertemuan yang sangat berarti, menampar hidupku yang tidak pernah bisa lepas dari gadget. Dari media social yang malah membuatku sibuk dengan orang – orang yang jauh dengan ku, dan mengabaikan orang yang sedang ada di sekitarku. Astagfurullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang sedang berusaha menjadi lebih baik.

Masya Allah
BalasHapus