Langsung ke konten utama

Postingan

Fiskal Year 23

Saat manusia ditempatkan di zona nyamannya. Saat itu lah dirinya memilih untuk tak pernah tumbuh dan menemukan potensi hebat yang ada pada dirinya.  Walau begitu, keluar dari zona nyaman tak pernah menjanjikan kenyamanan. Ada banyak tekanan, kesedihan dan kenestapaan yang ntah siapa yang memahaminya jika bukan diri sendiri.  Hari berganti hari, bertemu orang baru. Benar ternyata, bertemunya kita sama seseorang itu selalu ada tujuan. Selalu ada maksud, ntah mereka akan menjadi zona nyaman atau zona mengerikan yang perlahan bisa ditakluki.  Kalau kata bapak, manusia saat dipaksa keluar dari zona nyaman itu ada 2. Satu siap menerima dengan antusias satu lagi takut akan perubahan.  Dua respon itulah yang akan menentukan siapa kamu dimasa depan. Bukankah perubahan itu selalu ada walau tak pernah menunggu diri siap atau tidak? Aku jadi ingat kisah orang-orang sukses dan bahkan nabi muhammad saw sekalipun, adalah orang yang selalu keluar dari zona nyamannya. Mereka perlahan...
Postingan terbaru

Psikologi kekayaan Ala Rosulullah

Ketika uang menjadikan nilai segala galanya dalam kesejahteraan seseorang, uang menjadi sumber kebahagian seseorang, dan segala bentuk harta apapun itu. Yang membuat bangga dan menjadikan diri seolah mampu dan menyaingi orang untuk mendapatkan posisi kesetaraan dengan orang yang berharta. Sungguh. Semua itu sia-sia. Kekayaan tidak sama dengan harta dan jumlah aset yang dimiliki. Kekayaan adalah hal yang tak terlihat. Seperti jumlah tabungan di rekening mu. Seberapa banyak uang yang dimiliki yang tak dibelanjakan. Itu adalah kekayaan sesungguhnya. Orang selalu lupa, membelanjakan uang tidak mungkin akan mendapatkan uang kembali. Malah akan mendapatkan barang. Hingga lambat laun kekayaan akan berkurang. Seseorang yang memiliki barang branded harga selangit, mobil mewah, rumah megah dan aset melimpah tidak menjamin kekayaan tetap terjaga. Karena seseorang yang paham mengenai kekayaan hanya akan melihat orang itu sudah membelanjakan hartanya dan kekayaannya berkurang. Bisa jadi bukan lag...

Arti Sebuah Kehilangan

Sudah lama tidak bersua nih, sedikit ingin mengutarakan pendapat soal kehilangan. Emang akhir-akhir ini aku sedikit cemas, karena takut kehilangan. Eits tapi bukan kehilangan doi ya (orang kaga punya juga haha). Ya m emang s ejatinya itu manusia selalu ditakdirkan untuk merasakan kehilangan. Kehilangan atas impian yang selama ini mereka harapkan, kehilangan atas harapan – harapan serta asa yang membuat mereka lebih menghargai waktu dan perjuangan. Namun, kehilangan akan sangat berarti jika manusia itu yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Hanya ada dua pilihan saat dihadapkan dengan kehilangan yaitu ikhlaskan dan jadikan pembelajaran. Jangan hanya berpikir manusia saja yang merasakan kehilangan. Semua makhluk hidup rasanya sama. Sebagaimana pohon yang selalu kehilangan daun yang mati, tertiup angin dan terhempas hingga lenyap. Aku penasaran, saat mereka kehilangan.. apakah mereka sedih dan mengeluh layaknya seperti manusia? Banyak berdrama dan bertindak se...

Sebuah Pertemuan

Bertemu dengan seseorang itu bukanlah semata sebuah pertemuan biasa, rasanya aku harus menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur. Lebih paham dengan arti sebuah hikmah dibalik semua kejadian. Mungkin aku baru mengerti dan paham mengenai hadis yang pernah menyatakan bahwa “…pada akhir zaman itu umat muslim akan seperti buih di lautan” sungguh miris memang. Umat muslim kian banyak namun kita sama-sama asing. Seolah ada sekat yang tak terlihat untuk dapat menyapa, saling mengenal dan menjadi saudara. Tak tahu apa yang membuat ku tidak nyaman untuk mulai menyapa atau mengucapkan salam. Nyatanya saat aku mulai merasakan hal seperti itu, aku seketika merasa malas berinteraksi dan memilih mengutak ngatik ponsel yang jelas jelas tidak ada apa-apanya. Hanya sekedar ingin terlihat sibuk dan memiliki alasan untuk tidak mengganggu orang lain. Namun berbeda dengan dua orang seusiaku yang duduk disebalahku itu, mereka terlihat ramah. Bahkan sesekali menyapaku dan mengajaku berbicara yang p...

Rumah Penasaran, Katanya Berhantu

Siang itu di hari minggu, memang sangat disayangkan untuk dilewatkan hanya untuk diam di rumah saja. Waktu kuliah cukup menyita waktu me time . Liburan sekejap itu jelas tak mau aku lewatkan. Tanpa banyak berpikir panjang aku akhirnya memutuskan tuk berkunjung ke rumah yang lagi hits di Pangalengan, ya rumah yang sempat dijadikan sebagai tempat lokasi syuting film Pengabdi Setan. Tak begitu jauh memang jika rute perjalanan dari rumah ku. Cukup satu jam setengah atau dua jam paling lamanya untuk sampai di Pangalengan, dan dari bundaran langsung ambil arah kiri yang mau ke pasar, lurus saja sampai ketemu gapura selamat datang gitu. Trus masuk kesana lurus saja (cukup dalem memang lokasinya) sampai ada di sebelah kanan penampakan rumah tua serupa dengan rumah pengabdi setan. Parkir ditempat lokasi, tak jauh dari tempat parkir pengunjung dapat melihat langsung penampakan sebenarnya di rumah pengabdi setan.  Penampilan Rumah Udara cukup lembab dan dingin khas rumah ...

Aku adalah apa yang ada di sekitarku

Konon katanya jika sudah memiliki sahabat selama 7 tahun lebih itu bisa dikatakan sebagai sahabat sejati. Yang mana akan memiliki pemikiran, sudut pandang dan prinsip yang sama. Senang rasanya jika memiliki teman yang benar-benar selalu ada dan mendukung saat kita sedang terjatuh dan saat tidak memiliki pegangan untuk berjalan. Tapi itu bukanlah perkara yang mudah. Semuanya dapat diraih dengan proses, karena teman bukanlah suatu barang yang bisa dibeli. Melainkan, mereka adalah mahluk yang memiliki perasaan. Yang akan selalu setia jika ego yang dimiliki mampu diredam dan saling menghargai. Keterbukaan juga merupakan suatu kunci untuk memiliki teman sejati. Perkara pertemanan ini memang sangatlah penting untuk dibicarakan. Karena menurutku, seorang teman akan membentuk karakter, kepribadian dan pemikiran. Banyak orang yang salah pergaulan karena mereka kurang bijak dalam memilih pertemanan. Sebenarnya tidak ada larangan untuk berteman dengan siapa saja, hanya saja untuk meneri...

Pilihannya hanya dua : Dikenang atau Mengenang

  Malam sudah larut, namun suasana kota masih saja ramai. Seperti tak pernah beristirahat,  mungkin ada kalanya kaki yang terus berjalan ini lebih baik berhenti. bukan karena lelah atau karena sebuah keluhan, tapi karena perjalanan ini yang tampak sia-sia. Saat jerih payah seseorang itu tak lagi dihiraukan, jangan seenaknya berpikir jika mereka itu lemah dalam niat. Mereka hanya sudah berada di batas sabar, beranggapan jika semuanya itu sudah tidak berarti. Saatnya untuk berpikir lebih dewasa, lebih mengenal skala prioritas. Tidak ada yang salah memang, jika memang ada coba tanyakan pada diri sendiri yang terlalu mementingkan ego dan mengabaikan perasaan orang lain.   Dan saat ini, cukup lama aku tertegun di depan gadgetku. Bolak balik memasuki laman akun jejaring sosialku. Kini aku sedang menulis, hanya bersama ponselku. Tidak ada laptop yang biasa aku pakai untuk menulis, cukup sepi memang. Ini bukan keinginanku, semua terjadi karena kebodohanku. Sehingga semua file d...